Selasa, 03 September 2013

Dialog Seorang perempuan dan Anak laki-lakinya



Seperti biasa percakapan yang sangat berkelas terjadi antara seorang perempuan berusia 35 tahun dengan seorang anak laki-laki yang berumur 6 tahun.  Mereka hanya berjarak pada usia tapi mereka sama-sama mempercayai bahwa mendialogkan apapun secara terbuka adalah sebuah proses belajar yang efektif.  Dialog terjadi begitu egaliternya tak ada yang saling mendominasi, keduanya saling belajar antara satu dengan yang lainnya.  Si perempuan tak jarang terkagum-kagum dengan komentar anak laki-laki ini, kadang muncul ide dan pikiran yang tak pernah dipikirkan oleh sang perempuan yang muncul dari ide sang maestro cilik ini.
Obrolan malam tadi berlangsung begitu dewasanya, kedua pihak terlihat antusias dengan suatu obrolan, mulai dari perasaan menyenangkan dan yang menggelisahkan, pengetahuan, dan obrolan-obrolan ringan lainnya…berlangsung saban malam menjelang mata terpejam dan mengakhiri hari yang selalu disyukuri.
Sang perempuan hanya punya keinginan anak laki-laki yang baru saja berumur  6 tahun ini menjadi sosok yang berguna dan bermanfaat bagi orang lain, menjadi pribadi yang ditunggu dan dibutuhkan kehadirannya, menyenangkan lingkungannya.  Punya kekuatan hati dan pikiran yang jernih yang menuntunnya menjadi pribadi tangguh serta mengatasi setiap persoalan yang dialaminya.  setiap diskusi selalu diarahkan demi pencapaian cita-cita itu.
Pemicaraan malam ini diawali dengan melanjutkan obrolan yang tersisa malam kemarin, seputar kereta api dan ikan-ikan paus.  Ya…begitulah selalu dimulai dari hal-hal yang sederhana tapi lalu berlanjut kepada hal-hal yang lebih bermakna.    Malam tadi pembicaraan berpindah ke nama, sang laki-laki berumur 6 tahun ini dengan penuh antusias, matanya berpedar menggetarkan tala rasa sang perempuan yang tak pernah  berhenti untuk mengagumi kehebatan sang laki-laki kecil ini,  tak kalah bersemangat mengisi tabung pengetahuan sang laki-laki yang nanti kelak akan menjadi pembela orang tertindas nan hebat ini.   Tak jarang si perempuan harus berhenti sejenak untuk mencari jawaban dan menjelaskan dengan bahasa yang  langsung bisa diterima oleh pikiran laki-laki kecil namun selalu mempunyai rasa ingin tahu yang besar ini.Mata kecil itu terlihat temaram, bak lampu yang kekurangan cahaya tapi mulutnya tak berhenti bertanya memuaskan rasa ingin tahunya.  Kenapa bunda, kasih nama Oude, Oude? sang perempuan menjawab dengan amat hati-hati, Oude itu dari bahasa Belanda anakku, itu adalah nama tempat dimana kita pertama sekali bertemu dengan dimensi ruang yang berbeda.  Bunda ingin mengenang tempat itu sebagai tempat dimana pertama kali kita merasakan kehadiran kita masing-masing,  tempat itu jauh dari rumah kita saat ini.  Anakku mereka punya budaya yang berbeda dengan kita, juga cara pandang  serta cara berpikir yang beda.  Bunda memberi namamu itu, agar kamu punya cita-cita yang tinggi dan jauh, sejauh perjalanan yang yang pernah kita tempuh namun pernah terpikir kita tak akan mampu sampai disana, namun waktu membuktikan berbeda.   Lalu apa arti Rif’at lanjutnya? matanya semakin temaram….tapi mulut kecilnya semakin tajam bertanya. 
Rif’at itu artinya orang yang memiliki derajat yang tinggi, sayang! jelas sang perempuan.  Laki-laki ini tak puas, kenapa diberi nama Rif’at?,  aku menyela, sayang…orang tua selalu ingin memberi nama yang baik untuk anaknya, karena nama adalah doa bagi yang dipanggil, karena nama adalah cita-cita, ayah dan bunda ingin kamu menjadi orang yang memiliki derajat yang tinggi, seperti orang-orang yang sampai hari ini masih disebutkan namanya dalam sejarah karena hasil karyanya yang berguna untuk kehidupan orang lain, ayah dan bunda ingin kamu menjadi demikian pintar! tambahku.   Sepertinya…laki-laki kecil ini tak ingin segera melewatkan malam ini, antusias demikian menyala-nyala dari sinar matanya yang sedikit lagi akan segera terpejam.  
Night…night Oude, aku berdoa dalam hati semoga tuhan memampukanku menghantarkan mu menjadi manusia yang berderajat, cintaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar