Selasa, 03 September 2013

Gigi Kebanggaan Oude


Episode kali ini berkisah tentang seorang laki-laki kecil hebat yang berusaha untuk mengatasi rasa kehilangannya karena salah satu gigi kebanggannya harus direlakan dicabut oleh dokter gigi.  Ceritanya diawali ketika sang Ayah mengajak untuk mengunjungi dokter gigi, rencana awalnya adalah mengikuti saran dokter Revi untuk mencabut salah satu gigi susu Oude, karena gigi permanen telah tumbuh, ditambah lagi gigi susu tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda mau tanggal. “Ntar malam kita kedokter gigi ya?, demikian sang Ayah tiba2 menyampaikan titahnya, dalam perjalanan pulang kerumah disuatu sore. Mendengar ide ini tak pelak sang bunda langsung menyambut, “kebutulan hari ini rabu, jadi Oude bisa bertemu dokter Iin, salah satu dokter favorite Oude untuk urusan perawatan gigi, sambil membujuk.  Bola mata laki-laki kecil hebatku ini berputar keatas, bertanda calon pemimpin berkarakter masa depan ini sedang berpikir untuk mengambil keputusan terhebatnya.  “Bisakan, Oude? Aku kembali mempertegas”.  “Oke…..demikian Oude mengiyakan bertanda hatinya telah mengambil keputusan penting hari ini.

*****

Tepat pukul 19.30 kami sampai diprakter dokter gigi langganan keluarga kecil kami, Dental Care.  Udara dingin menyapa kami ketika kami memasuki ruang utamanya, beberapa orang sedang menunggu, ada juga beberapa anak kecil yang berjalan lalu lalang dikoridor.  Asisten dokter menyampaikan informasi bahwa dokter Iin tak hadir sore ini tapi digantikan oleh dokter lain, sontak saja ini menjadi berita yang tak diharapakan oleh Oude yang sudah membayangkan akan bertemu dokter Iin yang baik dan hangat menyapa pasien kecil ini.

Perasaanku sedikit khawatir Oude akan menolak tapi lets see pikirku, biasanya Oude gampang dibujuk jika alasan yang kusampaikan meyakinkan dan diterima oleh sipecinta singa ini.  Sesat kemudian, aku mendengar nama Oude dipanggil untuk masuk kedalam ruangan.
Sesampai didalam ruangan, laki-laki kecil hebat ini memprotes, “mana dokter Iin, tanyanya?, Oude enggak mau ditandai lagi”.  O ho aku paham ternyata laki-laki kecilku ini trauma dengan dokter Revi karena pengalaman cabut gigi yang terdahulu yang menoreh sedikit kesakitan.  Tapi kemurungan tak lama diwajah Oude, setelah dibujuk beberapa saat, akhirnya Oude mau juga duduk dikursi perawatan gigi.  Ternyata tak mudah…..sang dokter harus menjelaskan beberapa hal dulu terkait dengan fungsi beberapa peralatan yang ada disekitar kursi itu.  Setelah 10 menit bernegosiasi Oude mau mengikuti intruski dokter untuk memejamkan mata untuk dilakukan proses penandaan (anastesi).  Pengalaman sakit cabut gigi yang lalu membuat Oude menolak untuk dianatesi.
Proses bujuk membujuk kembali terjadi kali ini sudah berlangsung hamper 30 menit, tidak ada tanda-tanda ini akan berjalan mulus. 

Tak kupungkuri aku pun sedikit nervous namun berusaha untuk meyakinkan Oude ini hanya sebentar jika Oude bekerja sama dengan baik, maka prosesnya akan cepat.  tak terkecuali aku, aku juga merasa perasaan yang tak menentu. Setelah berbagai jurus bujukan akhirnya berhasil juga, satu gigi depan Oude dicabut, ketika dokter menunjukan cermin untuk melihat hasil perjuangan laki-laki kecilku ini,  tak ayal Oude sipenanya sejati ini menangis dalam pelukanku, ditengah sesengukannya aku mendengar samar-samar dia  bilang, “I am gonna miss that teeth”.  Ya…Allah aku menyadari betapa pangeran kecilku ini merasa kehilangan, ternyata gigi yang dicabut adalah gigi kebanggaannya yang sering digunakan Oude untuk menusuk minuman kemasan gelas yang biasa diminumnya.  Ingatanku melayang beberapa waktu lalu, Oude menunjukkan padaku dengan bangganya dia menusuk tutup plastic minuman gelas kemasan yang berisi air mineral dengan gigi runcingnya itu. Pelukannya tambah erat, seolah mencari kekuatan dariku, “gimana sekarang Oude membuka aqua gelas lagi, karena gigi oude itu udah dicabut? Demikian oude menumpahkan segenap kesedihannya dalam pelukanku.  Butir-butir air mata tak terbendung tumpah ruah disana.  Ada kesedihan bergantung dimata yang biasanya berbinar saat bertanya memenuhi rasa ingin tahunya padaku.  Kupeluk laki-laki kecilku, kalo Oude ingin menangis…silahkan menangis, nak. Kataku.  Karena menangis bisa membuat perasaan kita lebih baik.  Sejenak tangisan itu mereda, kulihat sorot mata itu berubah….seperti membutuhkan kata-kata ajaib dariku.  “hei…Oude sudah besar sekarang…gigi yang tumbuh artinya kita juga bertumbuh, kalo gigi Oude ini tanggal…berarti akan tumbuh gigi yang baru yang lebih baik, lebih putih dan kuat, aku berusaha untuk menjelaskan.   Kulihat tangisanya mulai mereda, Oude bilang, bunda, gigi itu sangat special.  Tahulah bunda ternayat gigi itu begitu istimewanya bagi Oude karena dia memiliki fungsi yang berbeda.  Gigi ini akan kelak akan membantu Oude untuk menggigit makanan dan membantu Oude untuk memakan makanan yang keras.  Tapi sepertinya Oude masih dengan kesedihannya.  Bunda kembali meyakinkan bahwa ini adalah proses normal yang dijalani oleh setiap anak, bahkan orang dewasa juga mengalami hal yang sama waktu mereka kecil dulu. 

Tapi ternayata Oude masih belum rela melepaskan giginya, sukurlah si asitensi dokter sangat berbaik hati untuk memberikan gigi Oude yang dicabut itu untuk dibawa pulang dalam kantong plastik kecil sebagai pelipur lara. “Oude, we will save your teeth, so you still can see it when you miss it”.  Imbuhku.  Senyum tak semerakah biasanya tersunging dibibir laki-laki kecil yang tak habis habisnya aku kagumi ini. Hah….aku merasa lega satu episode telah berakhir baik, semua pemain memaikan perannya dengan sempurna.

*******

Setelah membayar akhirnya kamipun pulang untuk merayakan sebuah peritiwa besar yang baru saja kami lewati bersama.  Tak berselang begitu lama, didalam mobil tampaknya mendung kembali menggelantung dimata laki-laki kecilku yang hebat, kulihat rona kesedihan belum sepenuhnya sirna dari wajah laki-laki kecilku yang bercita-cita ingin menjadi mata-mata dan master kungfu ini.
tiba-tiba Oude berujar, “look, mom.  I miss my teeth already, I wish  still could have it”.  Secepat kilat aku keluarkan gigi yang telah kusimpan disaku bajuku.  “ini…gigi Oude yang tadi dicabut, you still can see it, sweetheart, tambahku.  Tiba-tiba laki-laki kecilku ini memberi isyarat padaku untuk menunduk, bibir yang tak pernah berhenti bertanya ini diarahkan dekat telingaku, Oude berbisik, “ bunda, bukan cuma Oude yang suka dengan gigi ini, tapi juga Nibras, katanya gigi oude ini sangat kuat melebihi kekuatan gigi Dracula”.   Tak pelak lagi aku tersenyum dalam hati, aku mengerti ternyata gigi itu begitu berharga karena kebanggaan bersama antara Oude dan teman sejatinya Nibras.  Oh….taulah aku sekarang akar penyebab perasaan kehilanagan yang begitu mendalam ini. Sambil menahan senyum kutunjukkan simpati yang mendalam pada pangeran hatiku yang sedang berduka karena telah kehilangan gigi kebanggaannya, sambil memeluk erat bahwa meyakinkan bahwa setiap orang pasti akan sedih jika merasa kehilangan, tapi perasaan kehilangan ini tidak kekal, dia akan hilang meskipun demikian setiap orang harus menemukan cara untuk mengatasi rasa sedihnya dengan tepat.  Oude mengambil gigi yang telah dicabut itu…dia tatap dalam-dalam, Oude bilang, I will save it because I will miss it any time. 
    Eposode kali ini pun berakhir dengan happy ending, setiap pemain memaikan perannya juga begitu sempurna. 
->Catatan Bunda Oude tentang anak hebatnya, Oude.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar