Selasa, 10 September 2013

Berbagi Mimpi Bersama Oude

Salah satu point penting yang aku catat dari membaca pikiran-pikiran Charlotte Mansion adalah Children learn to get ideas,  artinya anak-anak belajar untuk memperoleh gagasan dari lingkungannya, terutama dari orang tua.  Gagasan itu sendiri meminjam istilah yang dipakai oleh mas Aar  bagaikan “virus spiritual yang bisa berkembang biak dalam pikiran anak.  Kata CM gagasan-gagasan itu haruslah berasal dari ide-ide yang besar, untukku gagasan-gagasan ini akan diterima oleh anak sebagai makanan bagi jiwa mereka.

Sehingga bagi kami mendidik Oude tidak hanya untuk menjawab kebutuhan pasar atau hanya untuk mendapat pekerjaan tapi lebih dari yaitu mengajarkan nilai-nilai luhur yang menjadi warna cara pandang dan pilihan hidupnya kelak. 

Tentu saja nilai-nilai luhur yang dikembangkan oleh satu keluarga dengan keluarga lainnya berbeda, salah satu nilai-nilai luhur yang kami kembangkan dalam mendidik Oude adalah membantu Oude membangun mimpi – mimpi besar dalam hidupnya. 

Cara yang kami lakukan adalah dengan mengekspose ide-ide besar baik itu berasal dari biografi orang-orang yang memiliki mahakarya yang besar juga mimipi-mimpi besar yang dapat kami wujudkan secara bersama. 

Salah satunya adalah mimpi yang kami bangun bersama adalah pergi ke luar negeri dan berkeliling dunia, pengalaman saya ketika belajar dan mengelilingi beberapa Negara dieropa membuat mimpi-mimpi kami ini nyata bagi Oude.

Mimpi-mimpi ini lalu kami hubungkan dengan kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh Oude,  lalu kami menghidupkan mimpi itu dalam setiap kegiatan yang kami lakukan, misalnya kami mengaitkan agar Oude belajar bahasa Inggris karena untuk bisa berkeliling dunia kita harus bisa berbahasa inggris, kami berlangganan TV berbayar dirumah sebagai bentuk investasi kami untuk mengekspose Oude dengan dunia international. 


Tidak hannya itu, gagasan-gagasan tentang ide-ide besar juga kami dapatkan dari mendiskusikan orang –orang besar dengan temuan-temuan master piece mereka, melalui biographi dan perjuangan mereka meraih cita-cita besar mereka.  Diantara beberapa tokoh yang kami diskusikan adalah Steve Job dengan penemuan Apple dan Michela Jackson dengan lagu-lagunya yang mendunia.

Diskusi diawali dengan bagaimana tokoh-tokoh tersebut membangun dan menggapai mimpi-mimpi mereka, juga diselip berbagai tantangan dan hambatan yang mereka lalui untuk mencapai cita-cita tersebut.

Salah satu hal menarik dari cerita Steve Job bagi Oude  bahwa Steve Job kecil adalah anak yang dianggap bodoh, malah mengindap disleksia yang sering dicemoohkan orang, namun menemukan minat dan ketertarikannya di computer lalu dia membangun mimpinya untuk menjadi pembuat computer hebat didunia.  Penekanan yang saya coba tekankan adalah bagaimana sebuah prestasi itu berasal dari passion, lalu kerja keras, pantang menyerah untuk mewujudkan passion tersebut.

Cerita tentang micheal Jackson juga menyentuh Oude, bagaimana Oude membangun simpatinya pada Jakco kecil yang sering dikasari oleh Ayahnya dan mengalami diskriminasi karena berkulit hitam yang ditanggal di Amerika, tapi memiliki tekat kuat untuk menjadi penyanyi dan berusaha keras untuk mewujudkannya.

Cerita-cerita itu kami terus ceritakan untuk mengajarkan pada Oude bahwa orang-orang besar itu tidak terjadi secara kebetulan tapi perlu kerja keras, keteguhan hati dan pantang menyerah.  (Bersambung).

Senin, 09 September 2013

Belajar Disiplin Dari Hati

Belajar dari gagasan charlotte Mansion tentang pendidikan yang terfokus pada building habit, atmosphere dan discipline, aku memahami bahwa pendidikan bukan hanya memasukkan materi pengetahuan dalam pikiran anak, tapi bagimana menciptakan situasi yang membuat anak tertarik untuk belajar, menciptakan kebiasan-kebiasaan baik juga disiplin.  Nah kali ini aku ingin berbagi tentang kisah kami yang terjadi tadi malam dalam upaya mendisiplin dan membangun kebiasaan baik untuk Oude, salah satunya adalah sikat gigi, (kirain serius ya…ternyata cuma sikat gigi, he he he.  Tapi bagi kami disiplin itu dimulai dari hal-hal kecil, salah satunya ya kebiasaan sikat gigi sebelum tidur).

Seperti biasa, sebelum tidur oude menyikat giginya terlebih dahulu, namun tadi malam Oude sibuk dengan menonton TV hingga jam sudah menunjukkan pukul 20.30, bundapun segera mengingatkan, “Oude, can you brush your teeth now?”, bak petir yang menyambar disiang bolong, sangat mengagetkanku tiba-tiba Oude menjawab, no…Bunda, this time I wont brush my teeth.  Awalnya aku pikir karena Oude masih serius dengan film favoritenya.  Aku diam saja, sembari melanjutkan pekerjaanku.  Hampir 10 menit aku menyadari Oude belum beranjak dari tempat duduknya, kembali aku ingatkan, Oude, ayo sikat gigi, sudah waktunya untuk tidur, anak pintarku ini kembali menjawab yang meluluh lantakkan semangat perjuanganku mendiplinkan anak laki-laki hebat ku ini, “Oude enggak mau sikat gigi, dengan tegasnya, seakan-akan dia ingin menyatakan keteguhan dan kesungguhan keinginannya itu.  Bukan karena Oude tidak mau sikap gigi yang membuatku gundah, tapi semangat perlawananya yang membuatku merasa, oh my god, anakku sudah besar, dia bukan balita lagi, cara melarang dan anjuranku ku harus mengikuti perkembangan usianya yang sudah mulai kritis dengan apapun.  “Kenapa”? Tanyaku ingin mengetahui, karena tak biasanya Oude menolak permintaanku dengan begitu tegasnya.  “Tak ada apa-apa, Oude hanya malas, boleh malam ini tidak menggosok gigi”?.  Dia mulai menawar lagi dan melihat keseriusanku.  “Ok, begini saja, boleh bunda minta Oude menyikat gigi untuk bunda malam ini, dan kita akan membicarakan sesuatu yang penting setelah itu, bunda tunggu dikamar ya?.  “Ok, Oude menjawab, sepertinya dia tidak bisa menolak permintaanku ini, tapi dengan sangat berat dia beranjak dari depan TV, mematikannya dan segera kekamar mandi. 

Akupun shalat Isya dan melihat buku-buku yang akan akan dibaca Oude malam ini (ini juga salah satu kebiasaan yang kami lakukan sejak Oude kecil untuk membacakan cerita, kebiasaan ini masih bertahan sampai sekarang, Oude sudah berumur 7 tahun). 

Setelah mendiskusikan bacaan Oude, lalu aku bertanya pada laki-laki kecil calon pemimpin masa depan ini, “apa Oude tahu kenapa bunda selalu mengingatkan Oude untuk sikat gigi sebelum tidur, dan bunda enggak akan pernah capek-capeknya mengingatkan Oude untuk melakukan apapun yang baik untuk Oude. Termasuk sikat gigi? “ya…Oude tahu, jawabnya, seolah enggan untuk melanjutkan pembicaraan ini.  Lalu aku menambahkan, bunda menyuruh Oude sikat gigi karena ini untuk kebaikan oude, bayangkan oude tidur dengan gigi kotor, kuman-kuman sisa makanan digigi akan tertinggal dan berkembang biak selagi Oude tidur dan ini akan merusak gigi", ya Oude tahu, jawab Oude masih menunjukkan sikap yang sama, tidak bersemangat.  (Aku berpikir untuk mencari bahan di internet tentang gigi untuk bahan belajar Oude berikutnya). 

Ok, aku tahu bagaimana menyentuh perasaannya, “Oude, tau? kalo Oude itu bukan milik bunda, tapi titipan Allah untuk ayah bunda, Oude tau maksudnya”? tanyaku.  Aku ingin tahu apakah dia paham dengan ucapanku ini, "maksudnya, Allah memilih bunda dan ayah sebagai orang tua untuk menjaga dan merawat juga mendidik Oude.  Jadi ayah dan bunda bertangung jawab untuk membantu Oude menjadi anak yang baik, sehat dan bertangung jawab untuk dirinya”, demikian aku melanjutkan.  Kalau Bunda tidak menegur waktu Oude melakukan kesalahan, nanti Allah akan meminta pertangung jawaban bunda diakhirat nanti.  “hei…Musda kenapa anakkmu tidak kamu didik dengan baik?, begitu salah satu pertanyaan yang harus bunda jawab", aku terus berusaha untuk membuat Oude paham.  Oude terdiam, aku tahu sesuatu sedang bekerja dalam pikirannya, tiba-tiba ekspresinya mencair…walaupun aku tak tau apa yang diserap oleh Oude dari perbincangan ini, tapi tiba-tiba Oude memelukku dan berujar, "Bunda, nanti Oude akan bilang sama Allah, you are my best mom ever,  surga apa yang paling bunda suka? Oude suka dengan surga jannatul Firdaus, karena  terbuat dari emas merah, Oude harap nanti diakhirat kita sama-sama tinggal disurga jannatul Firdaus ya ?".  Aku dekap laki-laki kecilku ini, sejenak hening, kami sama-sama tenggelam dalam kedalaman rasa yang cuma kami yang tahu.  Kutahan air mataku, dalam hati aku berdoa, Ya…Allah mampukan aku mendidik anak laki-lakiku ini menjadi hamba yang Engkau harapkan. Amin. 

 

 



Kamis, 05 September 2013

Belajar Dari keseharian.


        Meskipun tidak dibuat secara teratur  namun selalu diusahakan secara konsisten agar Oude mempersiapkan dan merencanakan apa yang dilakukan setiap hari, termasuk materi yang akan Oude pelajari. Kami tidak merencanakan secara detail materi pelajaran apa yang akan dipelajari Oude, namun mood Oude dan ketertarikannya terhadap materi tertentu yang sering  kami jadikan acuan.  Inilah salah satu keuntungan dari belajar dirumah, materi belajar dapat dirubah berdasarkan minat anak.  Kadang dimulai dengan membaca, atau menulis.  Kadang dimulai dengan bercerita dan menggambar atau mewarnai.   Subjek belajar juga bisa apa saja tergantung dari aktifitas yang dilakukan.  Mandi dikamar mandi maka air menjadi objek belajar.  Oude belajar tentang berat benda dan belajar tentang sifat-sifat air, sambil melakukan eksperimen.   Kalau kami sedang bepergian, maka Oude belajar tentang jenis-jenis kendaraan, bahan bakar dan dan kecepatan.  Jika kami kelaut maka kita akan mendiskusikan tentang binatang dibawah laut.  Proses belajarpun berasal dari kegiatan keseharian, hari ini Oude membersihkan bak mandi sambil  bersenang-senang didalam nya, dengan penuh semangat ia mengatakan padaku,” Bunda, Oude menemukan cara baru membersihkan bak mandi”, ternyata cara baru yang dimaksudkan adalah mengosok dengan kaki.    
         Aku jadi teringat dengan konsep belajar yang menyenangkan yang banyak ditawarkan oleh sekolah-sekolah, menurutku belajar yang menyenangkan adalah ketika anak menikmati proses belajarnya secara optimal, maka inilah proses belajar yang sesungguhnya. 
         Belajar menyenangkan tidak meskinya hanya dipahami  belajar sambil melompat-lompat atau sambil bernyanyi dan tertawa, tapi bagaimana melakukan proses belajar yang menghadirkan totalitas anak didalam setiap proses.  Sehingga belajar betul-betul dilakukan dengan menggali segenap rasa ingin tahu anak dan menciptakan suasana yang memungkinkan anak mengembangkan dan memenuhi rasa ingin tahu tersebut.
Ketika sianak telah menunjukkan ketertarikannya dengan materi pelajaran tertentu maka yang perlu dilakukan selanjutnya oleh orang tua adalah membangun rasa ingin tahu anak (curiosity) lalu mengarahkan dan memperkenalkan anak dengan sumber pengetahuan yang variatif tidak hanya dari buku paket tapi juga internet, eksiklopedia atau buku-buku dari perpustakaan dan membantu agar anak dapat mengakes beragam sumber pengetahuan tersebut, satu lagi seperti yang sering kami lakukan didalam proses belajar dirumah kami adalah menggunakan game sebagai instrument belajar. Link biasa kami pakai untuk belajar diantaranya adalah www.pbskidsgame.com, www.starfall.com.
         Proses belajar inilah yang kami coba terapkan pada anak laki-laki kami, Oude.  Senang melihat ekspresi Oude yang sangat menikmati proses belajarnya.   Teruslah bertanya untuk memenuhi rasa ingin tahumu, nak….karena begitulah kita belajar. (Bunda)

Kisah Oude dan Sekolah

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya cerdas, pintar dan memiliki karakter yang baik dalam hidupnya. Sehingga banyak orang tua meyakini mengantarkan anak kesekolah secepat mungkin adalah cara yang terbaik untuk mewujudkan keinginan tersebut. Begitu juga dengan kami, waktu kami pindah ke Punge Jurong Banda Aceh, tak jauh dari rumah kami terdapat PAUD plus sekolah TK yang menawarkan program pendidikan yang menurutku beda dengan pendekatan sekolah-sekolah lain.  Akhirnya kami pun memilih untuk mendaftarkan Oude kesekolah ini pada usia 2 tahun, “paling tidak, Oude akan punya banyak teman untuk bermain, dan ada fasilitator yang mengarahkan permainan yang terstruktur sesuai dengan perkembangan anak”, demikian pikirku.
   Namun ternyata ini adalah keputusan yang salah, Oude tidak nyaman dengan sekolahnya, awalnya aku pikir hal yang biasa  anak menangis dan meronta-ronta pada saat ditinggal kesekolah untuk pertama kali, sebagai proses normal berpisah dari orang tua dan masuk kedunia yang baru.  Ternyata ritual perpisahan antara Oude dan maknyak selalui diwarnai air mata yang bercucuran.  3 bulan pertama tangisannya tak begitu kencang setelah dibujuk dan melihat rabbit oleh miss oude lalu diam.  Tapi setelah hampir setahun situasinya tambah buruk Oude sering sakit secara tiba-tiba badannya bisa panas, wah...ini sudah tidak wajar menurutku.  Akhirnya kami say good bye dengan sekolah itu. 
Meskipun anakku tak mau sekolah, aku bisa menerima karena memang waktu itu Oude masih sangat muda, muncul juga kekahawatiranku bagaimana jika Oude memang tak suka dengan sekolah.  Ketika mencapai umur 4 tahun dan telah siap untuk masuk TK A, kembali aku ajak Oude untuk melihat-lihat sekolah.  Meskipun tak begitu menunjukkan ketertarikan, Oude akhirnya mau sekolah juga disalah satu TK di Lampriet Banda Aceh.  Tak dinyana ternyata hanya bertahan 1 tahun Oude kembali bilang, “Bunda, oude enggak mau sekolah lagi”.  Dengan berat hati karena tak ingin memaksa dan mengingat pengalaman lalu, aku mengiyakan permintaan Oude.  Setelah berhenti 2 bulan, Oude aku antar kembali kesekolah. Meskipun ada penolakan namun gurunya mampu mendekati dengan mengajak membaca buku, cara yang memang paling ampuh untuk membujuk Oude.  Setelah itu kembalilah lagi Oude belajar disekolah.   Setelah libur semester pertama, Oude bilang, can I study at home with you, mom?.  Kali ini aku tak kuasa untuk menyatakan tidak lagi
Permintaan Oude itu begitu menusuk hatiku, Ya...Allah aku telah mendholimi anakku dengan memaksa dia pergi kesekolah.  Pada awal aku mendengar permintaan Oude untuk berhenti sekolah 1 tahun lalu, aku panik.....sebagai orang yang sangat percaya dengan dunia pendidikan dan begitu semangat untuk bersekolah, aku merasa sedih, anakku tak suka sekolah.  Namun saat ini aku merasa baik-baik saja,  seiring berjalannya waktu aku terus mencari informasi diinternet, berdiskusi dengan psikolog anak dan aku banyak mendapat pencerahan setelah bergabung disalah satu milis sekolah rumah.  Milis ini membantuku menemukan cara pandang baru terhadap sekolah dan pendidikan. 
Dari milis homeshoolers Indonesia, aku belajar tentang homeschooling dan bertemu secara virtual dengan praktisi homeschooling.  Dari mereka aku belajar bahwa homeschooling adalah sebuah gerakan sosial lahir karena kritik terhadap pendidikan formal yang justru menyempitkan makna pendidikan pada buku paket, ujian, nilai dan ijazah.  Lalu mereka menyelenggarakan sendiri pendidikan bagi anak mereka dirumah, sungguh sebuah komitmen dan upaya yang sangat mengagumkan menurutku. 
Berkenalan dengan milis ini mula membuatku percaya diri untuk memulai homeschooling bagi Oude, namun tentu tak mudah banyak hal yang harus disesuaikan mengingat aku juga bekerja meskipun hanya mengajar dalam beberapa jam sehari.  Kali ini aku merasa tenang  meskipun Oude tak sekolah namun aku tetap dapat menyelenggarakan pendidikan bagi anak laki-lakiku. 
Cerita tentang Oude ini menyadarkanku bahwa tak semua anak nyaman dengan sekolah.  Ketidaknyamanan itu bisa karena teman yang tidak disukai, Oude pernah cerita  kalau dia tak menyukai teman2nya dan lebih memilih untuk main sendiri karenanya menurutnya teman-temannya itu suka permainan kekerasan, sesuatu yang tak ia sukai.    Dalam belajar Oude suka sambil bercerita dan tanya jawab, kebutuhan ini yang juga tak terpenuhi disekolah, sering Oude mengeluhkan bahwa dia capek disekolah, belajarnya tak menyenangkan katanya.
Setelah Libur semester  Oude kembali bilang “ Bunda, I am not going to school any more,  can learn at home only?.  Anakku tak mau sekolah tapi dia suka belajar, dia bertanya apa saja untuk memenuhi rasa ingin tahunya, kesempatan inilah yang tidak Oude temukan disekolah karena memang sekolah tidak melihat kebutuhan anak secara  khusus, sementara pendidikan sekolah dirancang secara masal untuk anak yang banyak.  Oude tak sekolah bukan berarti tak belajar, Oude mengajarkanku bahwa sekolah hanya salah satu tempat belajar, bahwa tempat belajar bisa dimana saja, belajar dari  benda-benda yang ada dirumah, membicarakan tentang pohon yang seakan berkejaran ketika kami didalam mobil atau ketika kami sedang makan direstoran semuanya menjadi bahan diskusi dan pembelajaran yang tak habis-habisnya. Senang melihat Oude demikian antusias bertanya.  Gurunya bisa siapa saja, kadang aku , supir labi-labi, tukang bengkel atau google sebagai sumberbelajar yang tak terbatas.   Sekarang ini Oude lagi suka belajar tentang paus, aku juga belajar dari Oude bahwa paus bukanlah ikan tapi jenis mamalia laut.  Hmm...ternyata demikianlah disekolah rumah anak dan orang tua bisa saling belajar bersama. (Bersambung)

Selasa, 03 September 2013

Karya Pertama Oude


Ini adalah tulisan Oude pertama, meskipun saya masih membantu mengetik namun secara ide dan pilihan kata murni dari Oude.  kegiatan menulis ini merupakan perkembangan dari kebiasaan membaca yang telah kami lakukan sejak Oude kecil.  Jika awalnya Oude membaca buku-buku dibantu oleh ayah dan bunda dengan cara Read a load  kini Oude sudah bisa membaca sendiri, materi bacaannya pun sudah lebih beragam, saat ini Oude mulai saya perkenalkan membaca buku-buku sastra, salah satu buku kesukaan Oude adalah buku yang berjudul Laba-Laba dan Jaring Kesayangannya Karya E.B. White.  Dari kebiasaan membaca sekarang Oude sedang kami latih untuk belajar menulis, berikut adalah karya pertama Oude. 

Bintang Kecil Yang Sedih
Ditulis oleh : Oude.R.M.Naruziqy

Pada suatu hari dilangit yang gelap hidup seorang bintang yang sangat besar dan ada sesuatu yang aneh yang terjadi lahirnya  bintang   yang cacat. Dia kecil, ia sedih, dia diejek oleh teman-teman si pendek dan ia sangat bersedih dan kemudian dia bersedih sampai enam bulan.  Tetapi dia menemukan kelebihannya sendiri meskipun kecil namun cahayanya sangat besar dan tapi dia masih sedih karena dia belum tahu kemampuannya itu, pada suatu malam semua bintang datang untuk bersinar waktu dia bersinar …..tuing……cahayanya sangat bersinar, semua bintang sampai tidak bisa melihatnya dan kemudian dia pergi ketengah-tengah bintang itu dan dia bersinar sebesar mungkin, tapi dia masih diejek sebagai bintang kecil akan tetapi satu planet ingin salah satu bintang besar menyinarinya, tapi bintang itu menjawab tidak karena dia sombong sekali dari ukurannya, padahal bintang itu lebih besar dari planet dan datang sibintang kecil, meskipun dia kecil cahayanya sangat besar dan datang satu planet lagi yang ingin bintang besar menyinarinya tapi bintang besar menjawab tidak.  Datang sibintang kecil dengan satu planet dan bintang kecil bilang “aku akan menyinarimu meskipun aku kecil aku bersinar sangat besar dan lalu datang ribuan planet Dari seluruh arah, dia memint bintang kecil menyinarinya, beberapa tahun kemudian bintang besar menjadi tua ia kesepian karena dia menjawab tidak untuk menyinari planet dan mengejek bintang kecil dan sekarang bintang kecil itu adalah matahari kita. Tamat.
Pesan moral : Jangan mengejek


Dialog Seorang perempuan dan Anak laki-lakinya



Seperti biasa percakapan yang sangat berkelas terjadi antara seorang perempuan berusia 35 tahun dengan seorang anak laki-laki yang berumur 6 tahun.  Mereka hanya berjarak pada usia tapi mereka sama-sama mempercayai bahwa mendialogkan apapun secara terbuka adalah sebuah proses belajar yang efektif.  Dialog terjadi begitu egaliternya tak ada yang saling mendominasi, keduanya saling belajar antara satu dengan yang lainnya.  Si perempuan tak jarang terkagum-kagum dengan komentar anak laki-laki ini, kadang muncul ide dan pikiran yang tak pernah dipikirkan oleh sang perempuan yang muncul dari ide sang maestro cilik ini.
Obrolan malam tadi berlangsung begitu dewasanya, kedua pihak terlihat antusias dengan suatu obrolan, mulai dari perasaan menyenangkan dan yang menggelisahkan, pengetahuan, dan obrolan-obrolan ringan lainnya…berlangsung saban malam menjelang mata terpejam dan mengakhiri hari yang selalu disyukuri.
Sang perempuan hanya punya keinginan anak laki-laki yang baru saja berumur  6 tahun ini menjadi sosok yang berguna dan bermanfaat bagi orang lain, menjadi pribadi yang ditunggu dan dibutuhkan kehadirannya, menyenangkan lingkungannya.  Punya kekuatan hati dan pikiran yang jernih yang menuntunnya menjadi pribadi tangguh serta mengatasi setiap persoalan yang dialaminya.  setiap diskusi selalu diarahkan demi pencapaian cita-cita itu.
Pemicaraan malam ini diawali dengan melanjutkan obrolan yang tersisa malam kemarin, seputar kereta api dan ikan-ikan paus.  Ya…begitulah selalu dimulai dari hal-hal yang sederhana tapi lalu berlanjut kepada hal-hal yang lebih bermakna.    Malam tadi pembicaraan berpindah ke nama, sang laki-laki berumur 6 tahun ini dengan penuh antusias, matanya berpedar menggetarkan tala rasa sang perempuan yang tak pernah  berhenti untuk mengagumi kehebatan sang laki-laki kecil ini,  tak kalah bersemangat mengisi tabung pengetahuan sang laki-laki yang nanti kelak akan menjadi pembela orang tertindas nan hebat ini.   Tak jarang si perempuan harus berhenti sejenak untuk mencari jawaban dan menjelaskan dengan bahasa yang  langsung bisa diterima oleh pikiran laki-laki kecil namun selalu mempunyai rasa ingin tahu yang besar ini.Mata kecil itu terlihat temaram, bak lampu yang kekurangan cahaya tapi mulutnya tak berhenti bertanya memuaskan rasa ingin tahunya.  Kenapa bunda, kasih nama Oude, Oude? sang perempuan menjawab dengan amat hati-hati, Oude itu dari bahasa Belanda anakku, itu adalah nama tempat dimana kita pertama sekali bertemu dengan dimensi ruang yang berbeda.  Bunda ingin mengenang tempat itu sebagai tempat dimana pertama kali kita merasakan kehadiran kita masing-masing,  tempat itu jauh dari rumah kita saat ini.  Anakku mereka punya budaya yang berbeda dengan kita, juga cara pandang  serta cara berpikir yang beda.  Bunda memberi namamu itu, agar kamu punya cita-cita yang tinggi dan jauh, sejauh perjalanan yang yang pernah kita tempuh namun pernah terpikir kita tak akan mampu sampai disana, namun waktu membuktikan berbeda.   Lalu apa arti Rif’at lanjutnya? matanya semakin temaram….tapi mulut kecilnya semakin tajam bertanya. 
Rif’at itu artinya orang yang memiliki derajat yang tinggi, sayang! jelas sang perempuan.  Laki-laki ini tak puas, kenapa diberi nama Rif’at?,  aku menyela, sayang…orang tua selalu ingin memberi nama yang baik untuk anaknya, karena nama adalah doa bagi yang dipanggil, karena nama adalah cita-cita, ayah dan bunda ingin kamu menjadi orang yang memiliki derajat yang tinggi, seperti orang-orang yang sampai hari ini masih disebutkan namanya dalam sejarah karena hasil karyanya yang berguna untuk kehidupan orang lain, ayah dan bunda ingin kamu menjadi demikian pintar! tambahku.   Sepertinya…laki-laki kecil ini tak ingin segera melewatkan malam ini, antusias demikian menyala-nyala dari sinar matanya yang sedikit lagi akan segera terpejam.  
Night…night Oude, aku berdoa dalam hati semoga tuhan memampukanku menghantarkan mu menjadi manusia yang berderajat, cintaku.

Gigi Kebanggaan Oude


Episode kali ini berkisah tentang seorang laki-laki kecil hebat yang berusaha untuk mengatasi rasa kehilangannya karena salah satu gigi kebanggannya harus direlakan dicabut oleh dokter gigi.  Ceritanya diawali ketika sang Ayah mengajak untuk mengunjungi dokter gigi, rencana awalnya adalah mengikuti saran dokter Revi untuk mencabut salah satu gigi susu Oude, karena gigi permanen telah tumbuh, ditambah lagi gigi susu tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda mau tanggal. “Ntar malam kita kedokter gigi ya?, demikian sang Ayah tiba2 menyampaikan titahnya, dalam perjalanan pulang kerumah disuatu sore. Mendengar ide ini tak pelak sang bunda langsung menyambut, “kebutulan hari ini rabu, jadi Oude bisa bertemu dokter Iin, salah satu dokter favorite Oude untuk urusan perawatan gigi, sambil membujuk.  Bola mata laki-laki kecil hebatku ini berputar keatas, bertanda calon pemimpin berkarakter masa depan ini sedang berpikir untuk mengambil keputusan terhebatnya.  “Bisakan, Oude? Aku kembali mempertegas”.  “Oke…..demikian Oude mengiyakan bertanda hatinya telah mengambil keputusan penting hari ini.

*****

Tepat pukul 19.30 kami sampai diprakter dokter gigi langganan keluarga kecil kami, Dental Care.  Udara dingin menyapa kami ketika kami memasuki ruang utamanya, beberapa orang sedang menunggu, ada juga beberapa anak kecil yang berjalan lalu lalang dikoridor.  Asisten dokter menyampaikan informasi bahwa dokter Iin tak hadir sore ini tapi digantikan oleh dokter lain, sontak saja ini menjadi berita yang tak diharapakan oleh Oude yang sudah membayangkan akan bertemu dokter Iin yang baik dan hangat menyapa pasien kecil ini.

Perasaanku sedikit khawatir Oude akan menolak tapi lets see pikirku, biasanya Oude gampang dibujuk jika alasan yang kusampaikan meyakinkan dan diterima oleh sipecinta singa ini.  Sesat kemudian, aku mendengar nama Oude dipanggil untuk masuk kedalam ruangan.
Sesampai didalam ruangan, laki-laki kecil hebat ini memprotes, “mana dokter Iin, tanyanya?, Oude enggak mau ditandai lagi”.  O ho aku paham ternyata laki-laki kecilku ini trauma dengan dokter Revi karena pengalaman cabut gigi yang terdahulu yang menoreh sedikit kesakitan.  Tapi kemurungan tak lama diwajah Oude, setelah dibujuk beberapa saat, akhirnya Oude mau juga duduk dikursi perawatan gigi.  Ternyata tak mudah…..sang dokter harus menjelaskan beberapa hal dulu terkait dengan fungsi beberapa peralatan yang ada disekitar kursi itu.  Setelah 10 menit bernegosiasi Oude mau mengikuti intruski dokter untuk memejamkan mata untuk dilakukan proses penandaan (anastesi).  Pengalaman sakit cabut gigi yang lalu membuat Oude menolak untuk dianatesi.
Proses bujuk membujuk kembali terjadi kali ini sudah berlangsung hamper 30 menit, tidak ada tanda-tanda ini akan berjalan mulus. 

Tak kupungkuri aku pun sedikit nervous namun berusaha untuk meyakinkan Oude ini hanya sebentar jika Oude bekerja sama dengan baik, maka prosesnya akan cepat.  tak terkecuali aku, aku juga merasa perasaan yang tak menentu. Setelah berbagai jurus bujukan akhirnya berhasil juga, satu gigi depan Oude dicabut, ketika dokter menunjukan cermin untuk melihat hasil perjuangan laki-laki kecilku ini,  tak ayal Oude sipenanya sejati ini menangis dalam pelukanku, ditengah sesengukannya aku mendengar samar-samar dia  bilang, “I am gonna miss that teeth”.  Ya…Allah aku menyadari betapa pangeran kecilku ini merasa kehilangan, ternyata gigi yang dicabut adalah gigi kebanggaannya yang sering digunakan Oude untuk menusuk minuman kemasan gelas yang biasa diminumnya.  Ingatanku melayang beberapa waktu lalu, Oude menunjukkan padaku dengan bangganya dia menusuk tutup plastic minuman gelas kemasan yang berisi air mineral dengan gigi runcingnya itu. Pelukannya tambah erat, seolah mencari kekuatan dariku, “gimana sekarang Oude membuka aqua gelas lagi, karena gigi oude itu udah dicabut? Demikian oude menumpahkan segenap kesedihannya dalam pelukanku.  Butir-butir air mata tak terbendung tumpah ruah disana.  Ada kesedihan bergantung dimata yang biasanya berbinar saat bertanya memenuhi rasa ingin tahunya padaku.  Kupeluk laki-laki kecilku, kalo Oude ingin menangis…silahkan menangis, nak. Kataku.  Karena menangis bisa membuat perasaan kita lebih baik.  Sejenak tangisan itu mereda, kulihat sorot mata itu berubah….seperti membutuhkan kata-kata ajaib dariku.  “hei…Oude sudah besar sekarang…gigi yang tumbuh artinya kita juga bertumbuh, kalo gigi Oude ini tanggal…berarti akan tumbuh gigi yang baru yang lebih baik, lebih putih dan kuat, aku berusaha untuk menjelaskan.   Kulihat tangisanya mulai mereda, Oude bilang, bunda, gigi itu sangat special.  Tahulah bunda ternayat gigi itu begitu istimewanya bagi Oude karena dia memiliki fungsi yang berbeda.  Gigi ini akan kelak akan membantu Oude untuk menggigit makanan dan membantu Oude untuk memakan makanan yang keras.  Tapi sepertinya Oude masih dengan kesedihannya.  Bunda kembali meyakinkan bahwa ini adalah proses normal yang dijalani oleh setiap anak, bahkan orang dewasa juga mengalami hal yang sama waktu mereka kecil dulu. 

Tapi ternayata Oude masih belum rela melepaskan giginya, sukurlah si asitensi dokter sangat berbaik hati untuk memberikan gigi Oude yang dicabut itu untuk dibawa pulang dalam kantong plastik kecil sebagai pelipur lara. “Oude, we will save your teeth, so you still can see it when you miss it”.  Imbuhku.  Senyum tak semerakah biasanya tersunging dibibir laki-laki kecil yang tak habis habisnya aku kagumi ini. Hah….aku merasa lega satu episode telah berakhir baik, semua pemain memaikan perannya dengan sempurna.

*******

Setelah membayar akhirnya kamipun pulang untuk merayakan sebuah peritiwa besar yang baru saja kami lewati bersama.  Tak berselang begitu lama, didalam mobil tampaknya mendung kembali menggelantung dimata laki-laki kecilku yang hebat, kulihat rona kesedihan belum sepenuhnya sirna dari wajah laki-laki kecilku yang bercita-cita ingin menjadi mata-mata dan master kungfu ini.
tiba-tiba Oude berujar, “look, mom.  I miss my teeth already, I wish  still could have it”.  Secepat kilat aku keluarkan gigi yang telah kusimpan disaku bajuku.  “ini…gigi Oude yang tadi dicabut, you still can see it, sweetheart, tambahku.  Tiba-tiba laki-laki kecilku ini memberi isyarat padaku untuk menunduk, bibir yang tak pernah berhenti bertanya ini diarahkan dekat telingaku, Oude berbisik, “ bunda, bukan cuma Oude yang suka dengan gigi ini, tapi juga Nibras, katanya gigi oude ini sangat kuat melebihi kekuatan gigi Dracula”.   Tak pelak lagi aku tersenyum dalam hati, aku mengerti ternyata gigi itu begitu berharga karena kebanggaan bersama antara Oude dan teman sejatinya Nibras.  Oh….taulah aku sekarang akar penyebab perasaan kehilanagan yang begitu mendalam ini. Sambil menahan senyum kutunjukkan simpati yang mendalam pada pangeran hatiku yang sedang berduka karena telah kehilangan gigi kebanggaannya, sambil memeluk erat bahwa meyakinkan bahwa setiap orang pasti akan sedih jika merasa kehilangan, tapi perasaan kehilangan ini tidak kekal, dia akan hilang meskipun demikian setiap orang harus menemukan cara untuk mengatasi rasa sedihnya dengan tepat.  Oude mengambil gigi yang telah dicabut itu…dia tatap dalam-dalam, Oude bilang, I will save it because I will miss it any time. 
    Eposode kali ini pun berakhir dengan happy ending, setiap pemain memaikan perannya juga begitu sempurna. 
->Catatan Bunda Oude tentang anak hebatnya, Oude.