Episode kali ini berkisah
tentang seorang laki-laki kecil hebat yang berusaha untuk mengatasi rasa
kehilangannya karena salah satu gigi kebanggannya harus direlakan dicabut oleh
dokter gigi. Ceritanya diawali ketika
sang Ayah mengajak untuk mengunjungi dokter gigi, rencana awalnya adalah mengikuti
saran dokter Revi untuk mencabut salah satu gigi susu Oude, karena gigi
permanen telah tumbuh, ditambah lagi gigi susu tersebut tidak menunjukkan
tanda-tanda mau tanggal. “Ntar malam kita kedokter gigi ya?, demikian sang Ayah
tiba2 menyampaikan titahnya, dalam perjalanan pulang kerumah disuatu sore.
Mendengar ide ini tak pelak sang bunda langsung menyambut, “kebutulan hari ini
rabu, jadi Oude bisa bertemu dokter Iin, salah satu dokter favorite Oude untuk
urusan perawatan gigi, sambil membujuk. Bola
mata laki-laki kecil hebatku ini berputar keatas, bertanda calon pemimpin
berkarakter masa depan ini sedang berpikir untuk mengambil keputusan
terhebatnya. “Bisakan, Oude? Aku kembali
mempertegas”. “Oke…..demikian Oude
mengiyakan bertanda hatinya telah mengambil keputusan penting hari ini.
*****
Tepat pukul 19.30 kami
sampai diprakter dokter gigi langganan keluarga kecil kami, Dental Care. Udara dingin menyapa kami ketika kami
memasuki ruang utamanya, beberapa orang sedang menunggu, ada juga beberapa anak
kecil yang berjalan lalu lalang dikoridor.
Asisten dokter menyampaikan informasi bahwa dokter Iin tak hadir sore
ini tapi digantikan oleh dokter lain, sontak saja ini menjadi berita yang tak diharapakan
oleh Oude yang sudah membayangkan akan bertemu dokter Iin yang baik dan hangat
menyapa pasien kecil ini.
Perasaanku sedikit
khawatir Oude akan menolak tapi lets see
pikirku, biasanya Oude gampang dibujuk jika alasan yang kusampaikan meyakinkan
dan diterima oleh sipecinta singa ini.
Sesat kemudian, aku mendengar nama Oude dipanggil untuk masuk kedalam
ruangan.
Sesampai didalam ruangan,
laki-laki kecil hebat ini memprotes, “mana dokter Iin, tanyanya?, Oude enggak
mau ditandai lagi”. O ho aku paham
ternyata laki-laki kecilku ini trauma dengan dokter Revi karena pengalaman
cabut gigi yang terdahulu yang menoreh sedikit kesakitan. Tapi kemurungan tak lama diwajah Oude,
setelah dibujuk beberapa saat, akhirnya Oude mau juga duduk dikursi perawatan gigi. Ternyata tak mudah…..sang dokter harus
menjelaskan beberapa hal dulu terkait dengan fungsi beberapa peralatan yang ada
disekitar kursi itu. Setelah 10 menit
bernegosiasi Oude mau mengikuti intruski dokter untuk memejamkan mata untuk
dilakukan proses penandaan (anastesi).
Pengalaman sakit cabut gigi yang lalu membuat Oude menolak untuk
dianatesi.
Proses bujuk membujuk kembali
terjadi kali ini sudah berlangsung hamper 30 menit, tidak ada tanda-tanda ini
akan berjalan mulus.
Tak kupungkuri aku pun sedikit
nervous namun berusaha untuk
meyakinkan Oude ini hanya sebentar jika Oude bekerja sama dengan baik, maka
prosesnya akan cepat. tak terkecuali
aku, aku juga merasa perasaan yang tak menentu. Setelah berbagai jurus bujukan
akhirnya berhasil juga, satu gigi depan Oude dicabut, ketika dokter menunjukan
cermin untuk melihat hasil perjuangan laki-laki kecilku ini, tak ayal Oude sipenanya sejati ini menangis
dalam pelukanku, ditengah sesengukannya aku mendengar samar-samar dia bilang, “I
am gonna miss that teeth”. Ya…Allah
aku menyadari betapa pangeran kecilku ini merasa kehilangan, ternyata gigi yang
dicabut adalah gigi kebanggaannya yang sering digunakan Oude untuk menusuk
minuman kemasan gelas yang biasa diminumnya.
Ingatanku melayang beberapa waktu lalu, Oude menunjukkan padaku dengan
bangganya dia menusuk tutup plastic minuman gelas kemasan yang berisi air
mineral dengan gigi runcingnya itu. Pelukannya tambah erat, seolah mencari
kekuatan dariku, “gimana sekarang Oude membuka aqua gelas lagi, karena gigi
oude itu udah dicabut? Demikian oude menumpahkan segenap kesedihannya dalam
pelukanku. Butir-butir air mata tak
terbendung tumpah ruah disana. Ada
kesedihan bergantung dimata yang biasanya berbinar saat bertanya memenuhi rasa
ingin tahunya padaku. Kupeluk laki-laki
kecilku, kalo Oude ingin menangis…silahkan menangis, nak. Kataku. Karena menangis bisa membuat perasaan kita
lebih baik. Sejenak tangisan itu mereda,
kulihat sorot mata itu berubah….seperti membutuhkan kata-kata ajaib
dariku. “hei…Oude sudah besar
sekarang…gigi yang tumbuh artinya kita juga bertumbuh, kalo gigi Oude ini
tanggal…berarti akan tumbuh gigi yang baru yang lebih baik, lebih putih dan
kuat, aku berusaha untuk menjelaskan.
Kulihat tangisanya mulai mereda, Oude bilang, bunda, gigi itu sangat
special. Tahulah bunda ternayat gigi itu
begitu istimewanya bagi Oude karena dia memiliki fungsi yang berbeda. Gigi ini akan kelak akan membantu Oude untuk
menggigit makanan dan membantu Oude untuk memakan makanan yang keras. Tapi sepertinya Oude masih dengan
kesedihannya. Bunda kembali meyakinkan
bahwa ini adalah proses normal yang dijalani oleh setiap anak, bahkan orang
dewasa juga mengalami hal yang sama waktu mereka kecil dulu.
Tapi ternayata Oude masih
belum rela melepaskan giginya, sukurlah si asitensi dokter sangat berbaik hati
untuk memberikan gigi Oude yang dicabut itu untuk dibawa pulang dalam kantong
plastik kecil sebagai pelipur lara. “Oude, we will save your teeth, so you
still can see it when you miss it”. Imbuhku. Senyum tak semerakah biasanya tersunging
dibibir laki-laki kecil yang tak habis habisnya aku kagumi ini. Hah….aku merasa
lega satu episode telah berakhir baik, semua pemain memaikan perannya dengan
sempurna.
*******
Setelah membayar akhirnya
kamipun pulang untuk merayakan sebuah peritiwa besar yang baru saja kami lewati
bersama. Tak berselang begitu lama, didalam
mobil tampaknya mendung kembali menggelantung dimata laki-laki kecilku yang
hebat, kulihat rona kesedihan belum sepenuhnya sirna dari wajah laki-laki
kecilku yang bercita-cita ingin menjadi mata-mata dan master kungfu ini.
tiba-tiba Oude berujar,
“look, mom. I miss my teeth already, I wish still could have it”. Secepat kilat aku keluarkan gigi yang telah
kusimpan disaku bajuku. “ini…gigi Oude yang
tadi dicabut, you still can see it, sweetheart, tambahku. Tiba-tiba laki-laki kecilku ini memberi
isyarat padaku untuk menunduk, bibir yang tak pernah berhenti bertanya ini
diarahkan dekat telingaku, Oude berbisik, “ bunda, bukan cuma Oude yang suka dengan
gigi ini, tapi juga Nibras, katanya gigi oude ini sangat kuat melebihi kekuatan
gigi Dracula”. Tak pelak lagi aku
tersenyum dalam hati, aku mengerti ternyata gigi itu begitu berharga karena
kebanggaan bersama antara Oude dan teman sejatinya Nibras. Oh….taulah aku sekarang akar penyebab
perasaan kehilanagan yang begitu mendalam ini. Sambil menahan senyum
kutunjukkan simpati yang mendalam pada pangeran hatiku yang sedang berduka
karena telah kehilangan gigi kebanggaannya, sambil memeluk erat bahwa meyakinkan
bahwa setiap orang pasti akan sedih jika merasa kehilangan, tapi perasaan
kehilangan ini tidak kekal, dia akan hilang meskipun demikian setiap orang
harus menemukan cara untuk mengatasi rasa sedihnya dengan tepat. Oude mengambil gigi yang telah dicabut
itu…dia tatap dalam-dalam, Oude bilang, I will save it because I will miss it
any time.
Eposode kali ini pun berakhir dengan happy ending, setiap pemain memaikan
perannya juga begitu sempurna.
->Catatan Bunda Oude
tentang anak hebatnya, Oude.