Senin, 09 September 2013

Belajar Disiplin Dari Hati

Belajar dari gagasan charlotte Mansion tentang pendidikan yang terfokus pada building habit, atmosphere dan discipline, aku memahami bahwa pendidikan bukan hanya memasukkan materi pengetahuan dalam pikiran anak, tapi bagimana menciptakan situasi yang membuat anak tertarik untuk belajar, menciptakan kebiasan-kebiasaan baik juga disiplin.  Nah kali ini aku ingin berbagi tentang kisah kami yang terjadi tadi malam dalam upaya mendisiplin dan membangun kebiasaan baik untuk Oude, salah satunya adalah sikat gigi, (kirain serius ya…ternyata cuma sikat gigi, he he he.  Tapi bagi kami disiplin itu dimulai dari hal-hal kecil, salah satunya ya kebiasaan sikat gigi sebelum tidur).

Seperti biasa, sebelum tidur oude menyikat giginya terlebih dahulu, namun tadi malam Oude sibuk dengan menonton TV hingga jam sudah menunjukkan pukul 20.30, bundapun segera mengingatkan, “Oude, can you brush your teeth now?”, bak petir yang menyambar disiang bolong, sangat mengagetkanku tiba-tiba Oude menjawab, no…Bunda, this time I wont brush my teeth.  Awalnya aku pikir karena Oude masih serius dengan film favoritenya.  Aku diam saja, sembari melanjutkan pekerjaanku.  Hampir 10 menit aku menyadari Oude belum beranjak dari tempat duduknya, kembali aku ingatkan, Oude, ayo sikat gigi, sudah waktunya untuk tidur, anak pintarku ini kembali menjawab yang meluluh lantakkan semangat perjuanganku mendiplinkan anak laki-laki hebat ku ini, “Oude enggak mau sikat gigi, dengan tegasnya, seakan-akan dia ingin menyatakan keteguhan dan kesungguhan keinginannya itu.  Bukan karena Oude tidak mau sikap gigi yang membuatku gundah, tapi semangat perlawananya yang membuatku merasa, oh my god, anakku sudah besar, dia bukan balita lagi, cara melarang dan anjuranku ku harus mengikuti perkembangan usianya yang sudah mulai kritis dengan apapun.  “Kenapa”? Tanyaku ingin mengetahui, karena tak biasanya Oude menolak permintaanku dengan begitu tegasnya.  “Tak ada apa-apa, Oude hanya malas, boleh malam ini tidak menggosok gigi”?.  Dia mulai menawar lagi dan melihat keseriusanku.  “Ok, begini saja, boleh bunda minta Oude menyikat gigi untuk bunda malam ini, dan kita akan membicarakan sesuatu yang penting setelah itu, bunda tunggu dikamar ya?.  “Ok, Oude menjawab, sepertinya dia tidak bisa menolak permintaanku ini, tapi dengan sangat berat dia beranjak dari depan TV, mematikannya dan segera kekamar mandi. 

Akupun shalat Isya dan melihat buku-buku yang akan akan dibaca Oude malam ini (ini juga salah satu kebiasaan yang kami lakukan sejak Oude kecil untuk membacakan cerita, kebiasaan ini masih bertahan sampai sekarang, Oude sudah berumur 7 tahun). 

Setelah mendiskusikan bacaan Oude, lalu aku bertanya pada laki-laki kecil calon pemimpin masa depan ini, “apa Oude tahu kenapa bunda selalu mengingatkan Oude untuk sikat gigi sebelum tidur, dan bunda enggak akan pernah capek-capeknya mengingatkan Oude untuk melakukan apapun yang baik untuk Oude. Termasuk sikat gigi? “ya…Oude tahu, jawabnya, seolah enggan untuk melanjutkan pembicaraan ini.  Lalu aku menambahkan, bunda menyuruh Oude sikat gigi karena ini untuk kebaikan oude, bayangkan oude tidur dengan gigi kotor, kuman-kuman sisa makanan digigi akan tertinggal dan berkembang biak selagi Oude tidur dan ini akan merusak gigi", ya Oude tahu, jawab Oude masih menunjukkan sikap yang sama, tidak bersemangat.  (Aku berpikir untuk mencari bahan di internet tentang gigi untuk bahan belajar Oude berikutnya). 

Ok, aku tahu bagaimana menyentuh perasaannya, “Oude, tau? kalo Oude itu bukan milik bunda, tapi titipan Allah untuk ayah bunda, Oude tau maksudnya”? tanyaku.  Aku ingin tahu apakah dia paham dengan ucapanku ini, "maksudnya, Allah memilih bunda dan ayah sebagai orang tua untuk menjaga dan merawat juga mendidik Oude.  Jadi ayah dan bunda bertangung jawab untuk membantu Oude menjadi anak yang baik, sehat dan bertangung jawab untuk dirinya”, demikian aku melanjutkan.  Kalau Bunda tidak menegur waktu Oude melakukan kesalahan, nanti Allah akan meminta pertangung jawaban bunda diakhirat nanti.  “hei…Musda kenapa anakkmu tidak kamu didik dengan baik?, begitu salah satu pertanyaan yang harus bunda jawab", aku terus berusaha untuk membuat Oude paham.  Oude terdiam, aku tahu sesuatu sedang bekerja dalam pikirannya, tiba-tiba ekspresinya mencair…walaupun aku tak tau apa yang diserap oleh Oude dari perbincangan ini, tapi tiba-tiba Oude memelukku dan berujar, "Bunda, nanti Oude akan bilang sama Allah, you are my best mom ever,  surga apa yang paling bunda suka? Oude suka dengan surga jannatul Firdaus, karena  terbuat dari emas merah, Oude harap nanti diakhirat kita sama-sama tinggal disurga jannatul Firdaus ya ?".  Aku dekap laki-laki kecilku ini, sejenak hening, kami sama-sama tenggelam dalam kedalaman rasa yang cuma kami yang tahu.  Kutahan air mataku, dalam hati aku berdoa, Ya…Allah mampukan aku mendidik anak laki-lakiku ini menjadi hamba yang Engkau harapkan. Amin. 

 

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar